Hello, 2020!
It isn't too late to say hello to our new year, right?
So, Hi.
Maaf, baru sempat.
Sekembalinya dari rumah Allah, sangat berat rasanya bagi raga dan otak untuk dipaksa langsung kembali ke realita; mengejar ketertinggalan ujian dan mata kuliah tanpa jeda baginya untuk beristirahat sejenak. Sangat letih memang rasanya. Jangankah membuka buku, bangkit dari kasur saja rasanya sulit sekali. Memerlukan niat yang sangat besar untuk memfokuskan diri benar-benar belajar dan memahami isi buku. Namun itu resiko, bukan?
--
Bisa berkunjung ke Mecca dan Madina di penghujung hingga awal tahun merupakan hal yang sangat luar biasa bagiku. Banyak sekali hal baru yang dapat aku ambil, dan rasa-rasanya, masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan yang seringkali aku perbuat dengan sadarnya dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Kala itu, pukul 16.30 di Masjidil Haram, Ust. Syatori menjelaskan perihal dosa yang kita perbuat dengan mengibaratkan kucing yang mencuri ikan di dapur. Tentu ketika mengetahuinya, kita akan marah, bukan? Dan kucing tersebut akan lari karna takut ia akan terkena pukul majikannya atas kesalahan yang ia perbuat. Tapi, bayangin ga sih kalo semisal ketika kalian marah, kucing tersebut justru cuek dan tetap menghabiskan ikannya dengan santai seolah yang ia lakukan tidaklah salah? Tentu kalian akan semakin kesal, bukan? Karena kucing tersebut tidak takut, dan kalian dianggap remeh. Begitu pula dengan Tuhan.
Seringkali dengan sengaja dan tanpa rasa bersalah sedikitpun, kita, aku khususnya, melakukan kesalahan dengan sadar seolah apa yang kita lakukan is okay. Ga ada yang salah. Dan ga ada yang melarang. Dan, mungkin itu penyebab dari banyak doaku yang tidak terjabah. Banyak keinginanku yang seringkali meleset dan tidak sesuai dengan ekspektasi. Walaupun aku juga sadar dan selalu percaya bahwa rencana Tuhan tidak pernah salah. Maka dari itu, jarang sekali aku merasa kecewa karna aku selalu percaya dengan rencana Tuhan. Pasti ada hikmahnya dari setiap kejadian. Dan mungkin, itu yang membuatku bertahan hingga saat ini. Hal itu pula yang membuatku merasa it's okay to do a sin because God's fate never goes wrong. Tanpa sadar bahwa bisa saja Tuhan menakdirkan hal buruk untukku.
Bagaimana bisa, kau meminta hal terbaik ketika kau sendiri belum memberikan Ia yang terbaik?
Ga perlu muluk-muluk.
Ga perlu berekspektasi tinggi.
Semuanya butuh proses.
Di tahun ini, mungkin aku tidak bisa berjanji untuk bisa berubah secara drastis mengubah gaya hidup dan gaya berpakaianku sesuai dengan ketentuan-Nya. But i'd try to. Aku akan mecoba untuk menjadi lebih baik lagi. Toh, jodoh juga cerminan diri kita sendiri, kan? How can i asked Him to get a good husband when im not?
So let's try to be a better person. Let's get closer to our God.
Pelan-pelan aja gapapa, yang penting yakin.
Semangat, aku.
Semangat, kita.
Percaya aja, pasti ada jalan.
Cheers!
So, Hi.
Maaf, baru sempat.
Sekembalinya dari rumah Allah, sangat berat rasanya bagi raga dan otak untuk dipaksa langsung kembali ke realita; mengejar ketertinggalan ujian dan mata kuliah tanpa jeda baginya untuk beristirahat sejenak. Sangat letih memang rasanya. Jangankah membuka buku, bangkit dari kasur saja rasanya sulit sekali. Memerlukan niat yang sangat besar untuk memfokuskan diri benar-benar belajar dan memahami isi buku. Namun itu resiko, bukan?
--
Bisa berkunjung ke Mecca dan Madina di penghujung hingga awal tahun merupakan hal yang sangat luar biasa bagiku. Banyak sekali hal baru yang dapat aku ambil, dan rasa-rasanya, masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan yang seringkali aku perbuat dengan sadarnya dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Kala itu, pukul 16.30 di Masjidil Haram, Ust. Syatori menjelaskan perihal dosa yang kita perbuat dengan mengibaratkan kucing yang mencuri ikan di dapur. Tentu ketika mengetahuinya, kita akan marah, bukan? Dan kucing tersebut akan lari karna takut ia akan terkena pukul majikannya atas kesalahan yang ia perbuat. Tapi, bayangin ga sih kalo semisal ketika kalian marah, kucing tersebut justru cuek dan tetap menghabiskan ikannya dengan santai seolah yang ia lakukan tidaklah salah? Tentu kalian akan semakin kesal, bukan? Karena kucing tersebut tidak takut, dan kalian dianggap remeh. Begitu pula dengan Tuhan.
Seringkali dengan sengaja dan tanpa rasa bersalah sedikitpun, kita, aku khususnya, melakukan kesalahan dengan sadar seolah apa yang kita lakukan is okay. Ga ada yang salah. Dan ga ada yang melarang. Dan, mungkin itu penyebab dari banyak doaku yang tidak terjabah. Banyak keinginanku yang seringkali meleset dan tidak sesuai dengan ekspektasi. Walaupun aku juga sadar dan selalu percaya bahwa rencana Tuhan tidak pernah salah. Maka dari itu, jarang sekali aku merasa kecewa karna aku selalu percaya dengan rencana Tuhan. Pasti ada hikmahnya dari setiap kejadian. Dan mungkin, itu yang membuatku bertahan hingga saat ini. Hal itu pula yang membuatku merasa it's okay to do a sin because God's fate never goes wrong. Tanpa sadar bahwa bisa saja Tuhan menakdirkan hal buruk untukku.
Bagaimana bisa, kau meminta hal terbaik ketika kau sendiri belum memberikan Ia yang terbaik?
Ga perlu muluk-muluk.
Ga perlu berekspektasi tinggi.
Semuanya butuh proses.
Di tahun ini, mungkin aku tidak bisa berjanji untuk bisa berubah secara drastis mengubah gaya hidup dan gaya berpakaianku sesuai dengan ketentuan-Nya. But i'd try to. Aku akan mecoba untuk menjadi lebih baik lagi. Toh, jodoh juga cerminan diri kita sendiri, kan? How can i asked Him to get a good husband when im not?
So let's try to be a better person. Let's get closer to our God.
Pelan-pelan aja gapapa, yang penting yakin.
Semangat, aku.
Semangat, kita.
Percaya aja, pasti ada jalan.
Cheers!
Comments
Post a Comment