Dasar bucin.

Semenjak adanya kata 'bucin', kata romantis semakin dilupakan.
Hal indah menjadi seolah-olah hina karena sebutan itu.


Budak cinta, katanya. Padahal, bisa saja mereka-yang menyebut seseorang bucin- hanya iri dengan mereka yang dapat mengekspresikan rasa cintanya kepada yang terkasih, menghabiskan waktu bersama untuk bercanda, dan berbahagia seolah dunia hanya milik berdua. 

Mereka yang menyebut bucin, bisa jadi mereka hanya tidak rela karena kawan yang biasa menghabiskan waktu bersama mereka kini telah berubah tidak lagi menghabiskan waktunya bersama mereka karena telah memiliki kekasih baru.

Dan mereka, yang menyebut kami bucin, bisa jadi dari hati terdalamnya, sebenarnya mereka juga ingin memiliki kekasih yang bisa mengisi kekosongan dan kehampaan hati selama ini. Naif, kalau mereka bilang tidak butuh. Mungkin belum, bukan tidak.

Perihal menjadi budak cinta, setiap orang memiliki prioritas dan cara mengekpresikan kebahagiaannya masing-masing. Tidak perlu diributkan, dicemooh, dan dihina. Menjadi budak cinta bukanlah suatu hal yang salah dan menjijikkan. Atau jikalau kamu masih berfikir demikian, mungkin kamu belum pernah merasakan memiliki seseorang yang benar-benar bisa mengerti dan menyayangimu sepenuh hati tidak peduli seberapa banyaknya kekuranganmu.

Kamu, yang menyebut kami budak cinta, tunggu saja giliranmu hingga kamu merasakan betapa indahnya merasakan cinta berbalas, dan betapa menjemukannya menunggu seseorang untuk datang dan benar-benar singgah.

Semua hanya perihal waktu. 
Cinta adalah candu. 
Dan menjadi budak cinta bukanlah suatu hal yang salah.
Setiap orang memiliki prioritas dan caranya masing-masing.

Selamat menemukan yang terkasih,

Nanda

Comments